Setiap tanggal 1 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan hari kesaktian Pancalisa itu terkait dengan peristiwa sebelumnya yakni Gerakan 30 September (G30S) yang diduga dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada dini hari 1 Oktober 6 Jendral dan 1 Perwira menengah Angkatan Darat diculik dan dibunuh oleh kelompok yang menamakan Dewan Revolusi. Dewan Revolusi ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung dari Resimen Cakrabirawa yang menjadi pasukan pengawal Presiden Soekarno.
Pada tanggal 1 Oktober itu juga Mayor Jendral Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) mengambilalih pucuk pimpinan Angkatan Darat. Dalih Mayor Jendral Soeharto karena pucuk pimpinan AD seperti Letnan Jendral Ahmad sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) dan Jendral AH Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tidak bisa menjalankan tugas pengamanan. Belakangan diketahui bahwa Jendral Ahmad Yani menjadi salah satu korban penculikan. Sementara AH Nasution selamat dari penculikan. Ia bersembunyi sampai sore hari sebelum diselamatkan di markas Kostrad setelah Soeharto mengklaim sebagai pucuk pimpinan Angkatan Darat.
Presiden Soekarno sebenarnya sudah menunjuk Mayor Jendral Pranoto Reksosamudro untuk memimpin Angkatan Darat. Penunjukan itu ditolak Soeharto. Soeharto mengklaim bahwa dalam garis komando Angkatan Darat jika pimpinan berhalangan maka yang menggantikan adalah Pangkostrad. Dengan dalih seperti itu, Mayor Jenderal Soeharto melakukan operasi pemberantasan kepada Dewan Jenderal sejak 1 Oktober 1965. Hari sejak dilakukan penumpasan pada G30S itu kemudian dijadikan dalih sebagai penyelamatan Pancasila yang belakangan disebut Hari Kesaktian Pancasila. Dalam pandangan Soeharto hari itu Pancasila diselamatkan dari rongrongan ideologi komunis.
Berikut ini fakta-fakta yang jarang diketahui berkaitan Hari Kesaktian Pancasila:
1. Pemerintahan Soeharto menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden No. 153/1967.
2. Pemerintahan Soeharto mewajibkan seluruh siswa sekolah dari tingkat dasar hingga menengah atas untuk menonton film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI pada malam 30 September. Film ini selalu ditayangkan melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI). Namun film ini tidak lagi ditayangkan sejak era reformasi 1998.
3. Pemerintahan Soeharto mewajibkan seluruh instansi pemerintah melakukan upacara bendera untuk memperingati hari kesaktian Pancasila. Pada hari sebelumnya, 30 September, seluruh instansi pemerintah maupun swasta diwajibkan mengibarkan bendera setengah tiang.
4. Presiden Soeharto tidak pernah memperingati hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945 dengan upacara bendera. Hal ini disebabkan rumusan Pancasila yang disampaikan pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dilakukan oleh mantan presiden Soekarno.
0 comments:
Post a Comment